RSS Feed

GEOMORFOLOGI DALAM SURVEY HIDROLOGI

Posted on

Septian Vienastra, S.Si., M.Eng.
vienastra@ugm.ac.id
@vienastra
 

Hubungan antara geomorfolgi dengan hidrologi terbilang beragam dan rumit. Arti penting dari geomorfologi untuk tujuan hidrologis telah dihargai meningkat diantara ahli hidrologi pada beberapa dekade terakhir saat mereka menjadi dipakai pada pengembangan sumber air dalam pengembangan dan negara lain dimana data hidrologis yang tersedia ditemukan menjadi tidak cukup untuk tujuan mereka. Pada beberapa kurun waktu yang cukup lama, seringkali sedikit jumlahnya atau bahkan tidak ada sama sekali data hidrologi. Dengan demikian, para ahli hidrologi wajib menggunakan pendekatan yang berbeda (Kuiper, 1971).

Studi geomorfologi fluvial, analisis morfologis dan lingkungan telah terjadi peningkatan yang pesat. Geomorfologi memiliki hubungan yang sangat dekat baik dengan air permukaan maupun keadaan air dibawah permukaan. Aset geomorfologi bertujuan untuk menjelaskan dan menilai lingkungan di mana air mengalir sehingga menyediakan ahli hidrologi bekerja di wilayah yang datanya kurang,  sehingga memungkinkannya untuk memahami keadaan dan untuk membuat keputusan yang sesuai. (White, 1975; Zaporozec, 1979). Schumm (1964), menekankan peran geomorfologi ini, yaitu mengenai hubungan umum yang ada antara variabel hidrologis dan geomorfologis. Ketika hubungan ini digunakan, ciri-ciri hidrologis dari wilayah lain, yang secara geomorfologi serupa, dapat diperkirakan. Hal ini berlaku pada sumber air permukaan maupun sumber daya airtanah. Meijerink (1974), menguraikannya dan menyimpulkan hal yang serupa. Kriteria geomorfologis tidak hanya membantu hidrologis dalam menilai sifat dasar hidrologis di wilayah studi ini, tetapi juga memberi kemudahan ekstrapolasi mereka dalam ruang dan waktu (Lohman dan Robinove, 1964). Pada konteks ini harus dibedakan antara air permukaan, air sebagai cadangan aluvial/koluvial dan air yang terjadi di formasi geologi yang lebih tua. Salah satu contoh hubungan geomorfologi yang membantu dalam analisis hidrologi terlihat seperti gambar di bawah ini yang menunjukkan bekas alur Sungai Tinalah.

Gambar 1. Alur Sungai Tinalah Masa Lampau (Foto: Septian, 2007)

Alur sungai Tinalah berubah arah yang kemungkinan disebabkan karena adanya gradien yang besar dan kecepatan arus yang mampu menggerus batuan atau material di depannya. Proses ini dinamakan cut off pada fluvial environment. Dinamakan demikian karena alur sungai belum membentuk sinous, jika sudah mengalami sinous maka prosesnya dinamakan neck off. Alur sungai yang tadinya berkelok mengalami ingsutan ke arah timur sehingga jarak tempuh alurnya lebih pendek yang menyebabkan kompetensi sungainya bertambah karena gradiennya juga bertambah besar. Kenampakan tersebut berada pada koordinat X = 0408721 dan Y = 9151274. Lokasi ini memiliki relief yang datar dan pada periode tertentu akan tergenang oleh banjir dari sungai Tinalah. Oleh karena itu proses yang mendominasi adalah proses sedimentasi. Dataran banjir ini merupakan abandon valley, yaitu lembah bekas sungai. Ciri-ciri dari adanya abandon river yaitu banyak ditemukannya batuan dengan ukuran border yang tersingkap atau terendapkan di tengah-tengah sawah. Selain itu ditemukan adanya garis dengan beda tinggi yang tegas yang merupakan bekas alur sungai pada masa lampau. Analisis-analisis tersebut dapat dilakukan bila memiliki pengetahuan geomorfologi yang cukup. Berikut ini ilustrasinya.

Gambar 2. Kondisi Alur Sungai Tinalah

Di negara Jepang, peta hidrografis membentuk suatu pengelompokan tanah negara (Nakano, 1962), dan di Polandia sebuah peta hidrografis yang sistematis, terinci pada skala 1:50.000 membentuk seperti sebuah kemitraan dengan peta geomorfologi pada skala yang sama (Klimaszewski, 1956). Dengan menganggap bahwa hidrologi sesungguhnya adalah pengaruh gabungan iklim, bentuk tanah, geologi, tanah dan vegetasi pada rezim alami air serta pengaruh manusia akan keseimbangan air, maka studi geomorfologi untuk tujuan hidrologis seharusnya tidak hanya menekankan aspek genetik pengembangan bentuk tanah, termasuk proses, tetapi juga aspek lingkungan. Pendekatan geomorfologis terhadap studi hidrologi kemudian menjadi mitra untuk konsep pemodelan hidrologis yang matematis. Hal ini dimungkinkan juga menyediakan data untuk perincian model matematis semacam itu.

Air permukaan ada di sungai, danau dan rawa, yang pada dasarnya siap untuk dapat diteliti tetapi adanya keragaman musiman memerlukan studi yang teliti mengenai karakteristik bentuk, gradien, dan kekasaran permukaan sungai. Kenyataan bahwa air yang diperlukan di wilayah setempat lebih banyak daripada di tempat yang berlimpah, bisa memerlukan struktur teknik dari berbagai macam seperti pemanfaatan sumber daya air yang terbanyak.

Airtanah pada umumnya memerlukan penelitian langsung. Pendekatan tidak langsung terhadap sumber daya air tanah menjadi umum. Struktur tanah mungkin memberikan petunjuk tentang keadaan air dibawah permukaan, contohnya oleh kejadian lubang galian sumur atau retakan. Sebuah pengelompokan tanah seringkali diperlukan untuk menilai keadaan lingkungan, untuk itulah penelitian geomorfologis perlu dilakukan. Hal ini mendukung anggapan mengenai untuk tidak memisahkan hubungan antara geomorfologi dan sumber air di bawah permukaan maupun di permukaan karena kedua kompnen ini saling terkait (Hesters, 1981).

Gambar 3. Salah Satu Citra yang Sering Digunakan untuk Interpretasi Geomorfologi

Peran geomorfologi dalam hidrologi menjadi lebih penting saat interpretasi foto dari udara atau penginderaan jarak jauh lainnya, karena hal ini merupakan praktek umum pada berbagai cara survey hidrologis. (Lohman dan Robinove, 1964; Radai, 1969; Robinove, 1968); Schumm, 1969; Tulio Benavides, 1976). Faktor-faktor geomorfologis juga memainkan peranan dalam geologis-foto, atau survey pedologis, akuifer dan banyak hal lain yang berhubungan dengan hidrologis. Data air permukaan yang digambarkan juga menjadi lebih mudah dan lebih akurat dianalisis. Ini merupakan bukti dari apa yang telah dikatakan di depan bahwa studi geomorfologis untuk tujuan hidrologis harus menekankan bentuklahan dan faktor geomorfolgis lain dalam hal yang lebih luas. Tidak hanya itu, dengan mempertimbangkan selain faktor geomorfologi memungkinkan untuk menggambarkan keberadaan air di suatu lingkungan.

About Vienastra

Golden Boy

8 responses »

  1. MAKNYUZZZZ!!!!

    Reply
  2. uuhhuuyyyy…!!!cciippp!!!

    Reply
  3. sippp.heee
    mw nax nii ka’! hee
    bgaimna hbngan antara piezometric dngan tekana udara dan muka air tanah?

    mksihhh ^_^

    Reply
    • Piezometric adalah TMA pada akuifer tertekan (jika TMA pada akuifer bebas bernama watertable). Acuan penentuan piezometric berada di daerah elevasi tinggi. Pada akuifer bebas, tekanan udara di dalam tanah sama besar dengan tekanan di udara bebas. Berbeda halnya pada akuifer tertekan, airtanah memiliki tekanan yang lebih besar daripada kondisi di permukaan. Oleh karena itu secara alami pada daerah elevasi rendah TMA akuifer tertekan memiliki ketinggian yg sama dg TMA akuifer tertekan di daerah elevasi tinggi.

      Reply
  4. Kaitan hidrologi dan geomorfologi mengenai penjelasannya

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: