RSS Feed

LIPSYNC… KONTROVERSI DAN REALITA

Posted on

Septian Vienastra
Drummer & Song Writter
Seven A.M.
@Vienastra

Fenomena lipsync akhir-akhir ini sedang booming. Secara sederhana, lipsync dapat diartikan akting para musisi yang sedang membawakan lagu mereka. Si artis akan jarang mengeluarkan skill bermusik yang mereka miliki. Mulai dari pagi hari kita sudah disuguhi berbagai acara musik yang artis-artisnya hanya “bersandiwara” membawakan sebuah lagu atau beberapa lagu. Bisa saja si artis menggunakan minus one (seperti karaoke), iringan musiknya tetap playback, jadi sang vokalis tetap bernyanyi seperti biasa, tidak sekedar berakting sedang menyanyi. Acara seperti ini tentunya mengundang banyak massa, apalagi biasanya digelar di tempat-tempat umum, seperti mall atau tempat 94ho3L lainnya. Tak heran bila banyak dijumpai penonton yang masih berseragam sekolah yang berarti mereka membolos hanya untuk menyaksikan acara ini. Mengapa lipsync? Apa untungnya? Sejak kapan fenomena ini ada? Mungkin itu beberapa pertanyaan yang akan muncul.

Acara di televisi seperti Dahsyat, Mantab, Inbox, Dering dan sebangsanya memang konsepnya lipsync/playback. Mungkin mereka mengadopsi (Indonesia kan bisanya mengadopsi) acara di luar negeri seperti acara TRL (Total Request Live) milik MTV. Tak mungkin akan ada lipsync tanpa win win solution. 2 pihak utama dari acara musik di televisi adalah si artis dan pihak stasiun televisi yang bersangkutan. Keduanya tentu ingin saling mendapat untung. Si artis akan mendapat promo gratis dan stasiun televisi akan mendapat rating yang tinggi. Acara-acara seperti ini sangat membantu si artis dalam mempromosikan lagu-lagunya. Fee yang diterima dari si artis tergolong kecil.

Indra Q dan Pongki Ikut Angkat Bicara Mengenai Lypsinc

Menurut Indra Qadarsih (BIP) dan Pongki Barata (The Dance Company), artis tetap mendapat fee, namun hanya untuk transport dan ada pula yang tak dibayar (tergantung dari perjanjian kedua belah pihak). Pihak stasiun televisi juga akan mendapat keuntungan dengan rating yang tinggi.Bisa dibayangkan jika semua artis harus tampil live dalam satu acara tersebut, persiapannya gila-gilaan.

Untuk menata panggung dibutuhkan waktu yang tidak sebentar, belum lagi adanya checksound dari tiap artisnya, penyesuaian dan pengaturan sound tiap artis dari operator, persiapan konsep yang akan dibawakan setiap artis, dsb. Acara musik live yang menghadirkan berbagai artis dengan durasi tayang terbatas, akan menghadirkan “kekacauan”  bagi pihak penyelenggara. Hal ini terkait kepentingan broadcast. Butuh waktu dan biaya yang gila-gilaan juga. Apalagi acara seperti ini hampir ditayangkan langsung setiap hari, artisnya pun bisa berganti-ganti tiap harinya, begitu pula tempatnya. Jika format acaranya tidak lipsync, kualitas sound yang dihasilkan juga tidak akan maksimal. Acaranya pun kemungkinan besar ngaret/molor. Televisi adalah tempat untuk “menjual diri” saja, bukan tempat untuk mempertontonkan kemampuan bermusik. Perform artis yang memang “kacangan” dapat “ditolong” dengan lipsync. Resikonya adalah, ketika tampil live akan ketahuan bila musisi itu ternyata “kacangan”. Mili Vanilli beberapa tahun silam jadi contoh. Sempat mendapat Grammy Award, kemudian terbukti mereka lipsync dan harus mengembalikan piala ditambah rasa malu seumur hidup serta kehilangan kesempatan berkiprah lebih jauh di musik.

Singkatnya, untuk acara lipsync persiapannya tidak akan seribet acara musik live, apalagi acaranya disiarkan langsung. Sebagai gambaran, acara musik yang benar-benar live perform adalah Soundrenalin, Java Rockinland. Untuk menggelar acara tersebut dibutuhkan persiapan setidaknya 2 hari (untuk penataan panggung, pembuatan ruang transit artis dan checksound) dan acara itupun tidak disiarkan secara langsung di televisi.

Sebenarnya, jaman dulu juga ada acara lipsync di televisi (mungkin ada yang belum lahir pada tahun ini). Ingat acara “Kamera Ria” atau acara “Album Minggu”??? acara musik jadul di TVRI ini juga telah menerapkan lipsync, namun mungkin karena jaman itu masih menjadi acara primadona dan belum adanya media untuk berekspresi sehingga terkesan adem ayem saja. Sebagai info tambahan (numpang sharing pengalaman), saya pernah bermain lipsync di salah satu acara TVRI Yogyakarta pada tahun 1999. Waktu itu, band saya yang bernama Deckill membawakan 2 lagu milik Hanson dan Koes Plus yang sudah direkam setahun sebelumnya. Acara tersebut memang bukan acara musik, namun juga disiarkan secara langsung. Terasa sekali perbedaannya jika hanya bermain lipsync, kurang greget, soulnya nggak dapet. Pendapat yang sama mungkin akan terlontar dari artis-artis jika ditanya saat perform dengan format lipsync. Bahkan ada yang berpendapat “Sangatlah gila bila enjoy bermain lipsync”. Musisi pun sebenarnya juga tidak menginginkan bermain lipsync. Jika ingin populer dengan cara instan, mereka tak punya pilihan lain, namun hanya sedikit artis yang benar-benar menolak lipsync karena tujuan mereka untuk mencari kepopuleran. Tak sedikit pula yang mengatakan “Banyak band sampah yang nongol dan berseliweran di TV”. Hal itu wajar saja, sekarang band dengan mudah menjadi terkenal, dan hanya sebatas terkenal. Kualitasnya bagaimana? Anda tentunya bisa menjawab sendiri.

Ada beberapa artis yang selalu ingin perform secara live dan enggan perform dengan format lipsync dengan resiko mereka akan jarang tampil di acara begituan. Siapa saja mereka??

1. Peterpan

Walaupun personel Peterpan sudah tidak lengkap dan hendak berganti nama, namun patut diacungkan jempol untuk karya mereka dan pembawaan lagu yang tanpa lipsync.

2. Nidji

Nidji seringkali tampil akustik dan tak jarang mereka menimprovisasikan musik mereka sendiri sehingga berbeda dengan lagu yang ada di album mereka.

3. Padi

Padi memang sudah jarang terlihat di acara televisi jarang terlihat dalam acara musik televisi namun tetap salut karena mereka secara terang-terangan menolak  lipsync. “Seperti orang dongo,” kata Piyu.

4. Sheila on 7

Sheila on 7 juga termasuk band yang jarang lipsync, bahkan mereka juga tidak terlalu mendewakan sebuah RBT dari karya mereka dan belum lama ini mereka meluncurkan album baru yang bertajuk “Berlayar”.

5. Gigi

Band senior ini jarang terlihat hanya “berakting” saat perform. Mereka juga terang-terangan menolak lipsync. Mereka selalu tampil atraktif di atas panggung untuk menghibur penonton.

6. Team Loe.

Team Loe adalah band lawak dimana ia akan mementaskan parodi atau lagu plesetan dengan tujuan semata-mata untuk menghibur dengan diselingi lawakan-lawakan. Tak jarang penonton yang melihat pasti tertawa. Band ini dapat dibilang juga anti lipsync, karena lagu mereka bersifat spontanitas sehingga tidak ada waktu buat rekaman.

7. Slank

Siapa yang tak kenal Slank, musik mereka sudah melegenda dan akrab di telinga para pendengar musik. Mereka termasuk yang anti lipsync dan lebih memilih bermain akustik ketimbang lipsync.

8. Iwan Fals

Musiknya sangat merakyat karena selalu memperjuangkan aspirasi rakyat. Tak heran jika penggemarnya dari berbagai kalangan. Sangat aneh jika melihat musisi yang satu ini berlipsync ria di atas panggung. Iwan Fals tak pernah memikirkan tentang komersialitas musik, beliau hanya berkarya sesuai hati nurani.

Salut untuk mereka semua karena tidak “menipu” masyarakat, tidak hanya menampangkan wajah tetapi kualitas bermusik juga ikut ditampilkan. Masih ada beberapa musisi lagi yang anti lipsync, namun saya rasa mereka-mereka sudah cukup mewakili.

Meskipun menjadi kontroversi di kalangan tertentu, namun inilah realitanya, inilah industri musik saat ini. Siapa sih yang mau merugi? Sama halnya dengan kebijakan RBT untuk sebuah karya dari musisi. Saya pun tidak setuju, karena suatu lagu hanya dinikmati sekitar 30 detik, tidak menyeluruh. Lalu, siapa yang salah? Sulit untuk melacaknya, ini hanya imbas dari kemajuan teknologi, dulu recording masih dengan pita sekarang memakai software, dulu beli kaset dan CD (yang asli tentunya) sekarang cukup mengkopi mp3.

Dari kacamata musisi dan seniman, lipsync itu “pembodohan” dan “kebohongan publik” yang amat fatal. Lipsync adalah fatalis. Penonton di lokasi manggung pun harus menerima “dikacangi” oleh teknologi dan kepentingan pemodal. Alanglah lebih baik kalau semua artis benar-benar mengasah diri di panggung dan tampil secara live. Seleksi alam harus tetap dilakukan saat perform, si artis akan terlihat aslinya, kalau bagus ya bagus, kalau busuk ya busuk. Saya mencintai musik, tapi bukan musik abal-abal yang sering tayang di televisi, lebih baik memilih mematikan televisi atau pindah channel, sebelum tertipu lebih banyak.

Sumber:

http://airputihku.wordpress.com/2010/12/01/kok-lypsinc-terpaksa-daripada-nggak-masuk-televisi-kepasrahanketerpaksaan-atau-kebodohan/
http://joyhomework.wordpress.com/2010/07/14/band-band-indonesia-yang-jarang-lypsinc-atau-lipsing/

About Vienastra

Golden Boy

4 responses »

  1. Pingback: MUSIK ITU …….. « Vienastra's Blog

  2. Paparan yang sangat menarik mas. Betul memang, realitanya sekarang memang seperti itu. Banyak sekali grup band baru dan juga penyanyi yang mengambil jalur solo, terbiasa melakukan lypsinc.

    Skills determine the quality.🙂

    Reply
  3. Ya…
    “Stop pembajakan” tapi karya sendiri malah dibajak
    Cuma bisa ngelus dada saya kalo ada artis,band,boy band kayk gini
    Cuma tampang doang yg dijadiin senjata
    Emang sih ganteng2 cantik2 tp masih kalah ama emak waktu nyanyi resepsi walo udah umur….

    #KeepRockin

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: