RSS Feed

MUSIK ITU ……..

Posted on

Septian Vienastra
Drummer & Songwriter
Seven A.M.
@Vienastra
 

Menurut pepatah kuno, musik identik dengan 3 istilah Sex, Drugs and Alcohol. Apa itu 100% benar?? Tentu tidak, karena hanya “identik” dan saya sendiri tidak setuju dengan pepatah itu. Memang ada musisi (terutama rocker) yang benar-benar identik dengan Sex, Drugs and Alcohol, tapi apakah hanya dari kalangan musisi?? Bagaimana kasus-kasus dari kalangan pejabat elit dan politisi, pemuka agama, militer atau orang-orang panutan? Mungkin imejnya akan lain. Di kalangan musisi, Sex, Drugs and Alcohol hanyalah tingkah laku dari orang-orang yang belum siap kaya atau terkenal, seperti yang baru-baru ini menyeret semua personil sebuah band (nggak perlu saya sebutkan). Singkatnya, Sex, Drugs and Alcohol hanyalah bagian kecil dari musik itu sendiri. Lalu, apakah makna dari musik itu sendiri? Jawabannya tentu bisa sangat beragam.

Musik sangat universal, bisa dinikmati semua golongan, usia dan etnis. Musik dapat berupa band, penyanyi solo, gamelan, orkestra, instrumen atau hanya sekedar membunyikan benda yang sebenarnya bukan alat musik. Bermain musik itu sangat menyenangkan, sangatlah rugi jika tidak bisa bermain musik atau sekedar menjadi penikmat saja. Musik dapat berevolusi sesuai perkembangan jaman.

Musik itu mengubah dari yang imajiner menjadi sebuah keindahan. Bayangkan saja, hanya dengan 13 nada dalam 1 oktaf bisa tercipta ribuan lagu, walaupun ada kemungkinan lagu yang diciptakan terkesan mirip dengan lagu lain. Lupakan dulu masalah jiplak menjiplak, itu sebuah proses yang wajar. Wajar?? Ya, dari dulu manusia diwariskan sifat meniru, entah itu disadari atau tidak. Bisa jadi 2 lagu yang mirip karena faktor ketidaksengajaan, meskipun sangat kecil kemungkinannya. Bisa dikatakan menjiplak jika dalam 1 bar (1 putaran nada) memang sama dari urutan nadanya dan pattern yang digunakan, tidak hanya mirip. Kasus jiplak menjiplak mungkin ada hikmahnya, baik bagi musisi yang “disangka” menjiplak maupun yang dijiplak. Keduanya akan sama lebih dikenal. Lagu yang dijiplak kadang-kadang masih asing di telinga orang awam, dengan adanya kasus tersebut orang akan mencoba mencari lagu aslinya yand mungkin belum diketahui orang banyak. Untuk si penjiplak tentu kasus ini akan cepat membuat mereka tenar. Apa ini tujuan dari menjipak? 50:50 jawabannya. Tidak selamanya lagu yang terkesan jiplakan itu hasil kreasi si pencipta lagu, ada yang namanya MD (Music Director) dari pihak label/perusahaan rekaman yang terkadang sengaja untuk membuat lagu mirip dengan lagu milik orang lain. Jadi, jika ada lagu yang mirip dengan lagu lain, jangan terlalu menyalahkan si pencipta lagu tersebut, mungkin ada campur tangan pihak lain untuk kepentingan tertentu. Terlepas dari kualitas, dagangan akan laris jika dikenal banyak orang.

Musik lebih dari sekedar menulis, sekalipun itu musik instrumen. Kenapa?? Si musisi tentu perlu menulis note balok yang dimainkan. Apakah hanya untuk menulis note balok? Musisi juga harus bisa “menulis” musiknya di dalam hatinya. Dengan kata lain, musik akan terdengar lebih indah jika yang membawakan benar-benar menghayati isi lagunya. Pernahkah Anda melihat seorang penyanyi menangis saat menyanyikan lagu yang sendu? atau pernahkah Anda menangis hanya karena mendengar sebuah lagu? Itu tandanya  si penyanyi benar-benar menghayati lagu yang dinyanyikan (biasanya dari pengalaman pribadi) dan Anda benar-benar bisa “masuk” ke dalam isi lagu tersebut. Berbeda halnya jika ada anak kecil yang menyanyikan lagu orang dewasa. Apakah dia benar-benar hafal liriknya?? Iya, karena anak kecil sangat mudah menghafal (loadnya masih sedikit) tapi apakah dia memahami apa maksud dari liriknya?? Hal seperti ini banyak dijumpai pada jaman sekarang. Bisakah Anda menyebutkan lagu anak-anak yang benar-benar baru dan dirilis setelah tahun 2008?? Atau lebih sederhananya, bisakah Anda menyebutkan 5 penyanyi cilik setelah eranya Tasya, Sherina atau Tina Toon?? Saya pun sebenarnya tertantang untuk membuat lagu anak-anak. Kasihan mereka, kini hanya disodori lagu-lagu yang sebenarnya tidak tepat untuk usia mereka.

Musik memang istimewa (selain Jogjakarta). Apa saja keistimewaannya dari musik:

1.  Kreatif, Bukan Hafalan

Musisi tentunya adalah seorang yang kreatif karena dia mendayagunakan otak kanannya. Semua yang berhubungan dengan kesenian menggunakan otak kanan. Hal yang sama juga berlaku untuk seniman lain, seperti pelukis, penari, dsb. Berbeda halnya dengan scientist yang lebih memforsir otak kiri. Musik bukan hafalan, sehingga untuk mengembangkannya digunakan otak kanan, bukan kiri. Sangatlah salah bila anak band masih menghafal kord suatu lagu, apalagi masih melihat contekan. Anda masih memakai otak kiri Gan dan sulit untuk berkembang. Anda bukan orang yang kreatif dan belum memainkan musik. Bedanya dengan pemain ansambel/orkesta yang selalu melihat contekan (partitur) kord lagu yang dibawakan?

Partitur Indonesia Raya (politikana.com)

Pemain ansambel/orkestra selain butuh petunjuk nada, mereka juga butuh petunjuk tempo, kapan waktu jeda, pattern/cara bermain, dsb, Partitur tersebut diperlukan semata-mata agar permainan musiknya kompak, tanpa itu pun sebenarnya mereka bisa melakukan. Lagipula yang tertulis di lembar kertas tersebut adalah note balok, bukan note huruf seperti pada contekan lagu-lagu yang sering dipakai anak band. Jika Anda ingin seimbang pemakaian antara otak kanan dan kiri, maka bermusiklah dan jangan pernah tinggalkan belajar. Saya sendiri berusaha memakai kedua otak saya dengan porsi seimbang.

2.  Tidak Ada Istilah Mantan

Tere (kiri) dan Gita KDI (kanan) yang Kini Menjadi Politikus (kapanlagi.com)

Ada yang namanya mantan presiden, mantan pejabat, mantan gubernur, mantan pacar, bahkan mantan narapidana (ups… yang sering sembunyi di balik statuta), tapi pernahkah Anda mendengar istilah mantan musisi? Meski sudah jarang bahkan tidak aktif lagi yang namanya musisi tetap musisi. Penyanyi Theresia Ebenna Ezeria Pardede atau yang akrab disapa Tere misalnya. Kini beliau duduk di Gedung Paripurna (yang sebentar lagi mau diupgrade). Contoh lain Gita KDI (Gitalis Dwi Natarina) yang juga menjadi anggota DPR. Saya masih menyebutnya seorang musisi, lebih spesifiknya penyanyi solo. So, tenang saja bagi pensiunan anak band, saya tetap menganggap kalian musisi kok.

3.  Komunitas

Semenjak saya mengenal musik, banyak komunitas yang saya kenal secara langsung atau pun tidak langsung. Sederhananya, dalam sebuah band pasti para personelnya punya kenalan dengan personel band lain dan jika salah satu sudah mengenalnya, maka yang lain secara otomatis ikut mengenalnya. Tidak hanya mengenal satu orang saja, namun mengenal kelompok orang. Tak jarang 2 band atau lebih yang memiliki kebiasaan yang sama pasti sering nongkrong bareng, jalan-jalan atau hanya bercengkerama di sebuah studio. Pengalaman saya sudah membuktikan, salah satunya saya bisa akrab dengan komunitas band yang menjadi runner-up Nescafe Get Started 2004, sebut saja Coolkhas (yang menjadi juaranya adalah J-Rock). Saya pernah menjadi kru saat mereka manggung. Tak perlu gengsi menjadi kru, toh itu bisa menjalin pertemanan. Kami sering sharing, ngobrol-ngobrol di studio, berbagi pengalaman.  Semakin banyak yang saya kenal hanya dari komunitas mereka saja, belum lagi jika mengenal komunitas dari band lain. Hal ini tentunya tidak bisa disamakan jika kita hanya ada di satu komunitas, misalnya di kampus atau di tempat tinggal kita. Orang yang kita kenal hanya itu-itu saja. Sulit untuk menambah komunitas (bukan perseorangan lho). Komunitas bisa dijadikan sebagai network. Anak band biasanya tidak punya alat yang sangat lengkap dan biasanya meminjam dari personel band lain. Di sini masih berlaku barter. 

4.  Software

Seperti halnya di dunia akademis yang mulai banyak mengembangkan penelitian-penelitian dengan bantuan software, di dunia musik pun mengalami hal yang sama. Musisi jaman dulu pastilah jauh lebih sulit untuk melewati masa-masa proses rekaman. Mengapa? Dahulu belum memakai era digital, masih serba manual termasuk urusan recording yang masih menggunakan pita. Jika di tengah-tengah lagu terdapat kesalahan, maka proses recording harus diulang dari awal lagu. Segi positifnya, yaitu si musisi harus benar-benar dalam kondisi prima sehingga tidak membuat kesalahan saat recording dan “nyawa” dari lagu tersebut lebih terasa karena direkam dalam satu kali proses. Kekurangannya mungkin hanya masalah waktu yang lebih lama. Dengan demikian, musisi yang tidak punya skill cukup akan sangat kewalahan untuk rekaman. Tidak seperti sekarang, dengan format digital (multitrack) maka musisi bisa merekam musiknya atau vokalnya secara bertahap. Terkadang, musisi harus take berulang-ulang karena “dimanja” dengan teknologi. Skill tidak menjadi persoalan. Software mampu menyulap suara yang sumbang menjadi merdu, tempo pukulan drum yang meleset menjadi pas dengan metronome, menciptakan efek gitar yang tak lazim, copy paste pattern, backing vocal buatan, dsb. Namun tak sedikit pula operator recording yang tidak mau mengaplikasikan “senjata rahasia” tersebut. Mereka tetap memanusiakan si musisi, tanpa harus mengubahnya menjadi robot. Plus minusnya jelas ada, dilihat dari positifnya selain mempermudah proses recording, software juga secara tidak langsung berperan dalam penciptaan sebuah sound yang baru. Negatifnya, software “melindungi” musisi yang sebernarnya hanya punya skill yang pas-pasan. Seperti yang sudah ditulis sebelumnya, ada software yang mampu meluruskan suara vokalis (pada grafik suara di software) sehingga terdengar aduhai, padahal jika langsung mendengar suara aslinya…. ampun deh. Itu untuk khusus vokalis, bagaimana dengan player-player yang lain? Biasanya mereka terkendala masalah tempo yang tidak pas dengan metronome. Jangan heran bila artis-artis yang sering lipsync begitu tampil live akan mengecewakan penonton.

Software yang dipakai beragam, mulai dari proses recording, mixing dan mastering. Biasanya untuk recording dan mixing menggunakan software yang sama, misalnya Sonar, Nuendo dan Cool Edit Pro, sedangkan untuk mastering memakai Wavelab. Mixing adalah proses balancing audio yang telah direkam, berapa besar volumenya, penataan output audio apakah stereo atau hanya mono, dan perapian audio track. Mastering adalah proses “penebalan” suara dan mengeksportnya menjadi master audio, biasanya dalam format wav atau audio CD. Band saya (Seven A.M.) lebih sering memakai Sonar dan Wavelab (sang gitaris yang merangkap menjadi operator). Untuk keperluan sound tambahan (piano, string, violin, looping, dll) biasanya kami memakai Fruity Loops seperti pada lagu Pemuja Wanita, Cinta yang Lain, Pegang Tanganku dan Hawa (numpang promosi). Kami bisa merekam lagu-lagu ciptaan sendiri dengan software tersebut tanpa harus menyewa studio rekaman. Maklum, budget terbatas jadi harus pandai berhemat (dengan catatan bisa mengoperasionalkan software-nya). Masih banyak software lainnya yang biasa menjadi partner musisi. Yang perlu diingat, software hanya sebagai media mempermudah proses bermusik, bukan sebagai sesuatu yang harus “didewakan”.

Tampilan Software Sonar (kiri atas), Nuendo (kanan atas), Fruity Loops (kiri bawah) dan Wavelab (kanan bawah)

Dengan musik, kita bisa belajar banyak hal, tidak hanya dari musik itu sendiri, namun aspek-aspek lain yang berhubungan dengannya. Beruntunglah bagi Anda yang menyukai musik meskipun hanya sebagai pendengar atau penikmat dan lebih beruntung lagi jika anda adalah seorang pemain musik. Tetaplah berkarya para musisi dan majulah terus musik Indonesia! Semoga bermanfaat.

About Vienastra

Golden Boy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: