RSS Feed

KAPAN KITA LEBARAN?


Septian Vienastra, S.Si., M.Eng.
vienastra@ugm.ac.id
@vienastra

Seringkali penetapan hari Lebaran di beberapa tempat khususnya di Indonesia terdapat perbedaan waktu, bahkan untuk penetapan awal puasanya sekalipun. Kok bisa?? Padahal perintahnya singkat, padat dan jelas.

“Berpuasalah kamu dengan melihat hilal dan berhentilah berpuasa karena melihat hilal”.

Buntut dari perintah tersebut ternyata puanjang tapi nggak pake lama…. Mengapa bisa terjadi?? Memang perintah puasa itu menggunakan penanggalan bulan, namun penentuan waktu berbuka dan sholat dengan matahari…. Apakah hal ini aneh?? Sebagian orang mungkin juga tidak menyadarinya bahwa penentuan awal-akhir bulan puasa dan waktu berbuka puasa itu berbeda pertimbangannya. Sebagai tambahan saja, hilal dapat diartikan sebagai awal masuknya bulan baru pada kalender Hijriah.

Dengan “keanehan” inilah maka manusia ini diminta untuk berpikir, karena perintah yang sederhana diatas ternyata saat inipun masih memerlukan pemikiran, masih membutuhkan olah pikir. Bahkan setelah lebih dari 1300 tahun kita masih diliput perbedaan itu. Terutama bagi yang mau menguji pemikiran dan pendapatnya, kalau mau ngikut aja ya boleh…kan juga ada perintahnya. Bagaimana bunyinya??

“Taatlah kamu kepada Allah dan Rasulmu dan Pemimpinmu”

Nah..berhubung saya bukan ahli rukyah, bukan ahli hisab dan bukan pemuka agama dalam sebuah sidang isbath penentuan penanggalan ini, mari kita bersama-sama mencoba untuk mengerti mengapa bisa ada perbedaan. Sepertinya bisa menjadi hal yang menarik.

Di bawah ini ada gambaran (hasil perhitungan) dimana kira-kira hilal akan terlihat. Peta ini adalah contoh kasus yang terjadi pada tahun 2006 (yang update belom ada Gan). Jangan khawatir bagi yang tidak terbiasa membaca gambar seperti di bawah ini, nanti ada petunjuknya kok….hehehe.

Gambar 1. Kenampakan Hilal pada Tanggal 22 Oktober 2006

Gambar 2. Kenampakan Hilal pada Tanggal 23 Oktober 2006

Petunjuk:

  1. Adalah sangat tidak mungkin untuk daerah yang berada di bawah arsiran warna MERAH dapat menyaksikan hilal, sebab pada saat itu hilal terbenam lebih dulu sebelum matahari atau ijtimak lokal (topocentric conjunction) terjadi setelah matahari terbenam. Artinya tinggi hilal adalah negatif.
  2. Daerah yang berada pada area tak berarsiran juga sangat besar kemungkinan tidak dapat menyaksikan hilal walaupun menggunakan peralatan optik (binokuler/teropong) sekalipun, sebab kedudukan hilal masih sangat rendah (0° sampai 6°) dan terang cakram bulan masih terlalu kecil sehingga cahaya hilal tidak mungkin teramati.
  3. Hilal baru mungkin dapat teramati menggunakan peralatan optik pada area di bawah arsiran warna BIRU
  4. Lokasi yang berada pada daerah di bawah arsiran warna UNGU hanya dapat menyaksikan hilal menggunakan peralatan optik sedangkan untuk melihat langsung dengan mata diperlukan kondisi cuaca yang sangat cerah dan ketelitian pengamatan.
  5. Hilal dengan mudah dapat disaksikan pada area di bawah arsiran warna HIJAU baik menggunakan mata langsung maupun terlebih menggunakan peralatan optik dengan syarat kondisi udara dan cuaca cukup baik.
  6. Peta ini dibuat hanya berlaku untuk daerah 60° Lintang Utara sampai 60° Lintang Selatan dan kejadian ini terjadi pada tahun 2006.

Berdasarkan kedua gambaran tersebut terlihat bahwa pada tanggal 22 Oktober 2006 daerah Indonesia terbagi dua, yang di bagian utara belum bisa melihat hilal, sedangkan yang selatan mungkin bisa melihat hilal. Pada tanggal 23 Oktober 2006 hampir semua tempat di Indonesia bisa melihat hilal (berwarna HIJAU).

Adanya perbedaan karena memang posisi geografisnya tidaklah sama. Bahkan peta diatas hanya berlaku untuk daerah lintang 60 derajat LU – 60 der LS saja. Yang perlu diingat adalah posisi bumi tidak sepenuhnya berdiri tegak, tetapi ada kemiringan 23,5° sehingga gambaran hilal juga tidak lurus. Urusan beginian Arab Saudi tidak mementingkan rukyah, karena pada tanggal 22 sudah ada daerah di bumi yang dapat menyaksikan hilal. Arab Saudi telah memulai puasa lebih awal sehari dan mustahil mereka berpuasa lebih dari 30 hari.

Kanjeng Nabi-pun pernah mencontohkan, suatu saat ada sekelompok umat yang tempatnya jauh dari posisi Nabi waktu itu menyatakan melihat hilal. Setelah nabi mendengarnya Beliau menyatakan pernyataan itu sudah sah. Kalau saja saat ini kita bisa “mendengar” ada sekelompok kaum yang sudah menyatakan melihat hilal, apakah seluruh dunia bisa berlebaran secara serentak? Kebersamaan memang indah tetapi dengan adanya perbedaan itulah yang menjadikan segala sesuatunya lebih indah.

“Taqaballahu minna Wa Minkum, Taqabbal Ya Kariim”

Minal Aidzin Wal Faidzin Mohon Maaf Lahir Batin

Sumber: http://rukyatulhilal.tripod.com/

About Vienastra

Golden Boy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: